Menu

Paksa

 


Oleh : BundaSriMin 


Menurut KBBI paksa diartikan mengerjakan sesuatu yang diharuskan walaupun tidak mau, bisa dijadikan motivasi awal latihan membangun kebiasaan positif.


Paksa diri untuk menjadi disiplin dalam melakukan kebaikan, seperti beribadah dan belajar yg pada akhirnya mendapatkan sebutan sebagai orang Sholeh serta ilmuan.


Paksa diri untuk meninggalkan dan menjauhi kemalasan, yg sebenarnya sangat sulit dilakukan, dg upaya membangun kesadaran bahwa waktu yg di sia² kan hanya akan membuka celah bagi syetan untuk berteman.


Paksa diri untuk mencintai kemuliaan, karena itu yg dapat mengarahkan jiwa raga pada keselamatan di dunia dan akhiratnya.


Dalam proses paksa tidak mesti dg cara kekerasan ataupun menyakitkan, niatan mendapatkan ridlo Nya,  cara dan suasana menyenangkan, maka akan menjadi kebiasaan yg tidak memberatkan.


Paksa diri menjadi manusia yang berarti dan memiliki nilai tinggi di mata sesama maupun sang pencipta, diawali dari adanya kemauan untuk menjadi insan yg beriman dan bertaqwa.


Paksa diri untuk mengubah harapan menjadi kenyataan guna memberikan banyak kemanfaatan, dg iklhtiar kesungguhan dan kekuatan doa di sepertiga malam.


Ya Allah ampunilah kekhilafan kami, aamiin

Semoga bermanfaat

Semoga kita selalu sehat 


Purwosari, 31 Agustus 2023

SriMinarti10Bjn

Gangguan Perilaku pada Demensia 3

 


Oleh : Dr FX Santoso


PENGOBATAN DEMENSIA SECARA UMUM

Penatalaksanaan demensia memerlukan pendekatan non-farmakologis dan farmakologis secara komprehensif, termasuk penilaian gejala yang akurat, lingkungan rumah, identifikasi pencetus (trigger), dan pengaruhnya terhadap pasien. Dalam hal ini terapi non-farmakologis menempati porsi yang jauh lebih besar


Beberapa fakta yang perlu diperhatikan dalam pengobatan demensia

1. Baik penyakit Alzheimer maupun tipe demensia yang lain bersifat progresif, artinya penyakit ini akan terus berkembang menjadi tambah buruk (penyakit degeneratif) dan diakhiri oleh kematian. Progresivitasnya bervariasi, bisa cepat bisa lambat.

2. Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan (cure) Alzheimer dan demensia lainnya. Obat-obat yang ada saat ini hanya mengurangi gejala yang nampak saja.

3. Ciri psikotik penderita demensia adalah halusinasi (biasanya visual), delusi, dan delusi salah identifikasi (contoh pasien percaya bahwa salah satu anggota keluarganya adalah penipu, percaya ada orang asing di rumahnya, atau gagal mengenali rumah mereka sendiri).

Sedangkan perilaku non-psikotik yang terkait dengan demensia termasuk agitasi, pengembaraan, dan agresi. Pasien dengan agitasi (gelisah, jengkel, gugup) bisa juga disebabkan oleh rasa lapar/haus, alkohol/kafein, dan infeksi. Sedangkan agresi fisik atau verbal sering dikaitkan dengan delusi salah identifikasi. 

4. Demensia dengan gejala gangguan psikotik seperti halusinasi dan waham (delusi) menimbulkan kegaduh gelisahan. Demensia dengan gejala waham meningkatkan presentase kegaduhgelisahan (bila dibandingkan yang tanpa waham): gejala agitasi meningkat 5 kali, marah meningkat 10 kali, dan berjalan tanpa tujuan 15 kali.

5. Efek samping dari obat-obatan yang sering dipakai pada penderita psikosis jauh lebih tinggi bila diberikan pada penderita demensia. Hal ini perlu menjadi bahan pertimbangan kalau mau memberi terapi farmakologis.


Terapi non-farmakologis

Pentingnya peran keluarga penderita Alzheimer

Sampai saat ini belum ada obat yang ‘cespleng’ untuk Alzheimer dan demensia lainnya, maklum penyakit ini sifatnya degeneratif. Apalagi obat-obat yang ada efek sampingnya jauh lebih merugikan daripada hasil yang diperoleh. Oleh karena itu, pengobatan lini pertama bukanlah obat-obatan. Kadang orang dengan gejala psikosis yang ringan belum perlu minum obat. Mereka lebih membutuhkan perhatian (care) dan kasih sayang (compassion) dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya. 


Kalau di luar negeri, ada perawat atau pekerja sosial yang khusus dididik dan dilatih untuk merawat penderita Alzheimer di rumah atau di panti jompo. Sayang hal itu tidak ada di Indonesia, apalagi di kota kecil seperti Bojonegoro. Adalah tugas kita sebagai keluarga dan orang terdekat pasien untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, dan membuat hari-hari tersisa mereka menjadi lebih menyenangkan karena dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai mereka.


1. Perhatikan pola makan

Gejala Alzheimer atau demensia adalah suka lupa. Hal ini akan membuat pola makan pasien tidak teratur. Ditambah dengan gejala-gejala lain seperti malas gerak, gangguan penglihatan, pasien tidak bisa mengenali makanan, atau lupa caranya makan. Ini semua mengakibatkan pasien menjadi dehidrasi, malnutrisi, serta imunitas menurun. 

Untuk itu penting untuk memperhatikan pola makan pasien. 

 • Dampingi pasien ketika makan, beritahu cara makan yang benar. Ya seperti kita mengulang lagi saat mengajari anak-anak makan semasa kecil.

 • Buat jadwal makan, dan pertahankan rutinitas ini, misalnya menyajikan makanan pada jam-jam yang sama setiap hari, karena hal ini bisa mengurangi stress dan mengurangi kemungkinan perilaku bermasalah.

 • Hidangkan makanan yang simple. Ini akan membantu pasien mengenal lauk-pauk yang akan dimakan.

 • Batasi makanan yang mengandung lemak jenuh, tinggi kolesterol, tinggi gula dan garam. Sebaliknya perbanyak sayuran, buah, sereal dan susu rendah lemak.

 • Ciptakan suasana tenang pada saat makan agar pasien bisa fokus pada aktivitas makannya, matikan radio dan televisi selagi makan.


2. Tingkatkan komunikasi dengan cara yang tepat

Sentuhan tangan bisa membuat pasien lebih percaya diri

Pasien Alzheimer cenderung sulit berkomunikasi, bisa bicara terbata-bata, sulit menyebut kata yang ingin diucapkan, atau terus-menerus mengulang sebuah kata. Oleh karena itu, cara berkomunikasi dengan pasien Alzheimer tidak bisa disamakan dengan orang yang normal.

 • Berbicaralah langsung dengan pasien, jangan melalui orang ketiga.

 • Berbicaralah secara empat mata dalam suasana tenang, tatap muka, lakukan kontak mata, jangan berbicara dari belakang pasien.

 • Belajar bersabar dan mendengarkan ucapan pasien hingga selesai.

 • Cobalah berbicara dengan nada yang jelas, perlahan, kalau perlu diikuti dengan gerakan tubuh.

 • Hindari berbicara dengan nada keras atau membentak. Hindari perdebatan.

 • Sentuhan tangan mungkin bermanfaat pada pasien yang mengalami delusi.

 • Jangan mengajukan pertanyaan terbuka, misalnya “Pagi ini mau sarapan apa?” karena pertanyaan ini akan membuat pasien menjadi bingung, kesal dan stress. Lebih baik ajukan pertanyaan tertutup, seperti “Pagi ini apa mau sarapan pecel?” sehingga jawabannya tinggal ‘ya’ atau ‘tidak’.

 • Bila pasien mencoba menerka-nerka kata atau lupa, cobalah beri pilihan kata untuk memudahkan mereka.


3. Ajak pasien untuk berolahraga dan mengikuti aktivitas sosial

Pastikan bahwa pasien Alzheimer tetap bugar. Ajaklah pasien aktif untuk berolahraga bersama. Selain utk menyehatkan secara fisik dan mental, menjaga berat badan ideal, meningkatkan kualitas tidur, juga memungkinkan pasien berinteraksi dgn orang lain. 

Tentunya jenis dan durasi olahraga perlu disesuaikan dengan usia penderita.

Selain itu aktivitas sosial juga bisa memberi manfaat pada pasien Alzheimer yang mengalami gejala depresi, suasana hati yang mudah berubah dan kesepian.


4.Terapi bermain

Ada banyak jenis permainan atau game yang diklaim bisa dipakai untuk sarana terapi penderita Alzheimer, antara lain Sudoku, mengisi TTS, puzzle, scrabble, main tebak kata, permainan kartu remi, bahkan permainan tradisional seperti dakon/congklak bisa dicoba. Juga ada banyak games yang bisa diunggah dari app store. 

Pasien juga bisa diajak untuk bernyanyi bersama atau kegiatan seni lainnya, seperti main musik, melukis, dsb. Menggali kenangan yang menyenangkan, seperti melihat album foto, cerita masal lalu, dsb. Terapi musik, terapi hewan peliharaan, dan terapi okupasi mungkin bisa mengurangi perilaku yang terkait dengan psikosis.


5. Perhatikan pola tidur

Pasien Alzheimer kerap mengalami gangguan tidur. Agar kualitas tidurnya tetap baik, cobalah beberapa tips berikut ini:

 • Ciptakan suasana kamar tidur yang nyaman dan aman, termasuk suhu ruangan.

 • Buatlah rutinitas tidur, biasakan tidur dan bangun pada jam yang sama.

 • Jangan biarkan pasien tidur hingga larut malam

• Sebelum tidur, siapkan air hangat untuk mandi sore. Ini akan membantu menjadi lebih rileks.

 • Batasi tidur siang, kurangi minum di malam hari, hindari minuman yang mengandung kafein, seperti kopi, coklat, minuman energi. 

 • Atur cahaya kamar yang tepat. Terapi cahaya terang di malam hari dapat mengurangi agitasi yang dapat terjadi saat lingkungan gelap. 

 • Jangan beri obat tidur tanpa izin dokter, karena efek sampingnya mungkin dapat memperburuk kondisi pasien.


6. Ciptakan suasana rumah yang aman

Suasana rumah yang tenang bisa membantu pasien untuk fokus pada semua kegiatan yang dilakukan. Sebaliknya, rumah yang bising akan membuat mereka stress. Selain tenang, diperlukan juga rumah dan lingkungan yang aman. Alasannya, karena pasien 

Alzheimer rentan mengalami insiden, seperti terjatuh, ceroboh dalam meletakkan atau menggunakan benda.

 • Simpan kunci, dompet dan benda berharga lainnya di tempat yang aman agar tidak mudah hilang. Simpan benda-benda berbahaya seperti pisau, gunting, senjata, di tempat yang aman dan sulit dijangkau pasien.

 • Simpan obat-obatan Alzheimer di tempat yang tidak terjangkau pasien.

 • Atur ponsel pasien dengan aplikasi pelacak lokasi. Ini akan sangat membantu apabila pasien tersesat saat keluar rumah. Bisa juga dengan memberi tanda pengenal.

 • Singkirkan perabot rumah yang mungkin mengganggu saat pasien berjalan. Pastikan lantai rumah selalu kering dan tidak licin agar pasien tidak mudah tergelincir.

 • Pajang foto-foto di dinding rumah yg dapat membantu pasien mengenal dan mengingat anggota keluarganya.

 • Jangan biarkan banyak cermin tergantung di rumah. Alasannya, cermin bisa menjadi trigger dari episode halusinasi dan delusi. Contoh seorang pasien yakin bahwa ada orang asing di kamarnya, dan bersikeras bahwa ia pernah melihat bayangannya. Mungkin tindakan memindahkan atau menutupi cermin dengan kain dapat mengurangi kecemasannya.

Kasus lain dimana seseorang merasa ada orang yang memata-matainya (waham curiga). Tindakan menurunkan gorden jendela bisa mengurangi masalahnya.


7. Menjaga kehangatan tubuh

Kedinginan adalah suatu risiko kesehatan yang serius bagi lansia yang tidak aktif dan memiliki sirkulasi yang buruk. Oleh karena itu pastikan mereka mengenakan pakaian yang sesuai, bila perlu beri selimut, kaus kaki, syal, topi, dsb. Atur suhu ruangan agar tidak terlalu dingin. Mungkin ini untuk pasien yang hidup di Eropa/Amerika ya?


8. Kesehatan gigi dan gusi

Gigi dan gusi yang sehat sangat penting untuk membantu para pasien Alzheimer makan. Jadi pastikan mereka memeriksakan kesehatan giginya secara berkala, termasuk juga gigi palsu apabila mereka menggunakannya.


9. Atasi sembelit dan inkontinesia

Sembelit dpt menyebabkan rasa sakit, tidak nyaman dan kebingungan. Hal ini sering terjadi pada lansia yang tidak aktif. Makanan berserat, banyak minum air putih, dan olahraga teratur dapat memperbaiki kondisi ini.

Pasien Alzheimer sering buang air kecil dan besar sembarangan (inkontinesia). Latih mereka ke kamar mandi setiap hari, ya seperti toilet training pada anak kecil. Bisa juga dengan memakai popok dewasa biar lebih higienis dan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.


10. Perilaku berulang

Penderita Alzheimer sering melakukan perilaku berulang, seperti menanyakan atau menceritakan sesuatu berulang kali. Untuk mengatasi hal ini, coba alihkan perhatiannya dengan aktivitas lain.


11. Agitasi dan agresif

Perilaku agitasi (gelisah, jengkel, gugup) dan agresif (fisik atau verbal) bisa terjadi tiba-tiba tanpa alasan atau karena situasi tertentu yang membuatnya frustasi (jadi ada pemicunya). Lindungi keamanan pasien, diri anda sendiri dan orang di sekitar. Lakukan pula persuasi dan komunikasi nonverbal. Dan kalau bisa hilangkan trigger-nya, atau alihkan perhatiannya dari trigger yang mungkin membuat mereka kesal. Sama halnya ketika anak-anak kita masih kecil lagi nakal atau rewel, lalu kita mengalihkan perhatian mereka dengan permainan untuk dimainkan.


12. Sikap keluarga

Gejala-gejala pasien Alzheimer yang menjurus psikotik sering membuat keluarga jadi khawatir. Tapi dokter jarang melibatkan keluarga dan memberikan pendidikan tentang bagaimana menghadapinya. Halusinasi dan delusi bisa menakutkan keluarga, namun sepanjang itu tidak membahayakan orang lain ya biarkan saja. Sangat penting untuk bisa berinteraksi dengan pasien secara tenang. Jika tidak, pasiennya marah (perilaku agresi), keluarganya ikutan marah, dan akhirnya mengarah pada siklus keputusasaan komunal. Jadi, tetap tenang, jangan ajak pasien berdebat, coba alihkan perhatiannya ke masalah lain. Mungkin cara ini bisa menenangkannya.


Terapi farmakologis

Penelitian tentang obat-obat Alzheimer dalam beberapa tahun ini cukup pesat, walaupun sampai saat ini belum ada obat yg dapat menyembuhkan penyakit ini. Beberapa jenis obat yang sudah direkomendasikan oleh FDA adalah 

 • Galantamine, rivastigmine dan donepezil, ketiga obat ini masuk dalam golongan cholinesterase inhibitor. Obat-obatan ini dapat membantu mengurangi atau mengendalikan beberapa gejala kognitif dan perilaku. Obat ini digunakan untuk mengobati Alzheimer ringan, sedang dan berat.

 • Lecanemab dan aducanumab adalah imunoterapi. Digunakan untuk mengobati gangguan kognitif ringan dan Alzheimer ringan. Efek sampingnya lebih berat dari ketiga obat pertama.

 • Memantine adalah golongan NMDA antagonist, dan digunakan untuk mengobati Alzheimer sedang hingga berat. Bila perlu, memantine bisa dikombinasikan dengan donepezil. 


Obat-obat yang harus digunakan dengan ekstra hati-hati

Beberapa jenis obat, seperti obat tidur, penenang, antikejang, dan antipsikosis hanya boleh dipertimbangkan sebagai pilihan apabila:

 • Dokter telah menjelaskan semua risiko dan efek samping obat

 • Obat pilihan lain yang lebih aman sudah tidak dapat mengatasi masalah itu

Kalau terpaksa, pemberian obat-obat di atas hanya boleh dilakukan dalam waktu singkat, tidak boleh terus-menerus, dengan pemantauan efek samping yang ketat, khususnya untuk obat antipsikosis karena efek sampingnya bisa amat serius. 


Sebuah rumus umum yang dipakai dalam mengobati Alzheimer adalah dimulai dari dosis rendah kemudian dinaikkan perlahan-lahan. Upayakan untuk menggunakan monoterapi dahulu sampai perbaikan tercapai, atau ada efek samping yang tidak bisa ditoleransi, atau dosis maksimal tercapai. Perlu dicatat bahwa tujuan dari terapi farmakologis adalah mengurangi gejala gangguan perilaku yg paling menjengkelkan, bukan menghilangkan.


 Tulisan ini dirangkum dari berbagai sumber yang kredibel, di atas tahun 2020

 Semoga kita selalu sehat.


Simak juga www.suarawisata.com

Royal

 


Oleh : BundaSriMin 


Istilah royal sering dimaknai dg memberi lebih bisa berupa materi maupun jasa dan dapat dijadikan strategi kepemimpinan di sembarang suasana, misalkan dalam keluarga ataupun satuan pendidikan.


Sebagai ilustrasi, ada seorang karyawan petugas kebersihan di satuan pendidikan, dia sangat rajin dan memiliki loyalitas yg tinggi pada pimpinan (kepala Sekolah), setelah diamati bahwa sikap loyal karyawan tersebut terjadi karena untuk menjawab sikap royal atasan nya, sang pimpinan setiap hari menyapa dg ramah, sering memberi makanan dan uang tambahan pada karyawan. 


Dari ilustrasi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa memberi merupakan strategi yg ampuh dalam menyelesaikan berbagai persoalan, istri akan loyal nurut taat pada suaminya bila diberi perhatian kecukupan kebutuhan.


Memberi sama artinya dengan memuliakan bila dibarengi dengan keikhlasan, bukan sekedar pencitraan untuk menarik perhatian masa, dan dalam hal memerintah selalu diawali dengan keteladanan. 


Memberi dg ketulusan yg bertendensi cinta akan berdampak besar, hasilnya kadang tidak terduga bahkan sering diluar nalar manusia. 


Indahnya memberi yg terbaik dari apa yg kita miliki, agar tidak menjadi busuk dan terbuang sia-sia apabila disimpan terlalu lama, ibaratnya kehidupan itu adalah perubahan dan kebaruan, proses sirkulasi yg menjadikan manusia sehat jasmani dan rohani serta jiwa nya.


Ya Allah ampunilah kekhilafan kami, aamiin

Semoga bermanfaat

Semoga kita selalu sehat 


Bojonegoro, 26 Agustus 2023

SriMinarti10Bjn

Gangguan Perilaku pada Demensia 2

 

Manula

Oleh : Dr FX Santoso

GEJALA PERILAKU PADA DEMENSIA

Orang dengan demensia bisa mengalami perilaku yang tidak terduga dan membuat keluarga bingung dalam menyikapi perilaku tersebut. Untuk itu penting bagi keluarga mengetahui perilaku seperti apa saja yang mungkin terjadi, dan hal-hal apa yang bisa menyebabkan perilaku tersebut.

1. Perilaku agresif 

Perilaku agresif bisa dengan kata-kata (misalnya berteriak, memaki-maki, dsb) atau tindakan fisik (misalnya mendorong, memukul, dsb). Perilaku ini bisa terjadi tiba tiba tanpa alasan atau karena situasi tertentu yang membuat dia frustasi (ada pemicu/ trigger). Sangat penting untuk mengetahui alasan yang menyebabkan orang dengan demensia menjadi kesal dan marah.

2. Kecemasan 

Orang dengan demensia bisa merasa cemas, dan kemudian menjadi gelisah atau berjalan mondar-mandir. Bisa juga tiba-tiba menjadi murung dan fokus pada detail tertentu.

3. Kebingungan 

Orang dengan demensia kadang tidak mengenali orang, tempat atau barang. Dia bisa lupa hubungannya dengan orang yang ia temui (termasuk suami/istri, anak, dan cucu), memanggil anggota keluarga dengan nama lain, atau menjadi bingung karena tidak tahu dimana rumahnya. Lupa akan tujuan penggunaan suatu barang, misalnya garpu digunakan untuk menulis. Situasi seperti ini bukanlah mudah untuk keluarga yang merawat, butuh kesabaran dan sikap mau memahami orang dengan demensia.

4. Perilaku mengulang sesuatu 

Orang dengan demensia bisa melakukan suatu tindakan berulang-ulang, misalnya mengulang kata-kata yang sama, menanyakan hal yang sama, atau berulang kali berjalan ke arah jendela kemudian kembali, mencuci piring berulang-ulang, dsb.

5. Curiga yang berlebihan 

Orang dengan demensia kehilangan memorinya dan kebingungan. Hal ini bisa membuatnya mudah curiga dengan apa yang terjadi di sekitarnya, seperti menuduh seseorang mencuri, berselingkuh, dsb. Kadang dapat juga terjadi mis-interpretasi dari apa yang dilihat dan didengarnya.

6. Berjalan-jalan dan tersesat 

Kadang kita mendengar berita radio SS atau di medsos tentang ditemukannya seorang tua yang tidak tahu jalan pulang, tanpa membawa identitas, bahkan namanya sendiri lupa. Orang dengan demensia memang sering berjalan-jalan tak tentu arah dan akhirnya tersesat. Mereka mungkin berusaha untuk pulang tapi bingung karena tidak tahu dimana rumahnya. Waktu di rumah, mereka ingin melakukan aktivitas rutin yang biasa dilakukannya dulu, seperti pergi ke kantor, ke pasar, dsb.

7. Gangguan tidur 

Gangguan tidur dan perubahan pola tidur sering terjadi pada orang dengan demensia. Hal ini bisa disebabkan karena perubahan di otak yang terjadi karena demensia tsb.


Gejala gangguan perilaku ini bisa terjadi pada semua jenis demensia, termasuk penyakit Alzheimer, demensia vaskular, demensia Lewy Body dan demensia frontotemporal. Gangguan perilaku ini dapat mencakup halusinasi, delusi dan agitasi (perilaku agresif). 


HALUSINASI DAN DELUSI 

Halusinasi dan delusi, dua masalah kejiwaan yang sering dianggap sama, bahkan tertukar dalam penggunaan istilahnya. Faktanya, kedua masalah kesehatan ini sungguh berbeda. Dan keduanya bisa terjadi pada orang dengan demensia. 


Perbedaan dan persamaan

Halusinasi merupakan hal yang dirasakan dengan panca indra namun tidak nyata, sedangkan delusi adalah kepercayaan seseorang terhadap suatu hal yang tidak nyata atau tidak benar. Jadi persamaannya adalah baik halusinasi maupun delusi merupakan kondisi di mana seseorang mengalami hal yang tidak nyata


Halusinasi 

Halusinasi adalah semua hal yang bisa dirasa, didengar, dilihat, atau dicium, walaupun tidak nyata (orang lain tidak merasakannya). Penyebabnya bisa gangguan mental (termasuk demensia), penyalahgunaan obat, kurang tidur, dan kondisi kesehatan tertentu, seperti demam tinggi, stadium terminal penyakit, migraine, epilepsy, dan isolasi sosial. 


Sesuai dengan panca indra, ada lima jenis halusinasi :

 • Halusinasi visual, misalnya merasa melihat seseorang, benda atau obyek lain yang sebenarnya tidak ada disana. Jenis ini yang paling sering dijumpai pada demensia.

 • Halusinasi olfactory, misalnya merasa mencium bau wangi, atau bau tidak sedap pada diri sendiri, suatu obyek, atau orang lain.

 • Halusinasi gustatory, misalnya merasa mengecap rasa besi/logam pada lidahnya. Hal ini sering terjadi pada penderita epilepsy.

 • Halusinasi auditory, misalnya merasa mendengar suara seperti langkah kaki, bel, ketukan berulang. Ini adalah jenis halusinasi yang paling umum.

 • Halusinasi tactile, misalnya merasa seperti ada semut yang berjalan, tangan seseorang yang menyentuh badan mereka, pergerakan organ dalam, dsb.


Delusi atau Waham

Delusi adalah gangguan mental di mana pasien tidak dapat membedakan realitas dan imajinasi, sehingga ia meyakini dan bersikap sesuai dengan apa yang diyakininya. 


Berbeda dengan halusinasi yang merupakan suatu gejala dari penyakit lain, delusi merupakan suatu gangguan mental yang serius. Ada beberapa faktor yang bisa menimbulkan gangguan ini, seperti genetik, biologis (misalnya tumor otak), stress berlebih, penyalahgunaan obat, dsb.


Umumnya penderita delusi dapat bekerja dan berinteraksi seperti orang normal, tapi perilakunya akan berubah (seperti marah, tersinggung, sedih) bila dalam interaksinya menyinggung apa yang diyakininya. 


Ada beberapa jenis delusi:

 • Erotomatic, misalnya seseorang meyakini bahwa artis idolanya jatuh cinta padanya yang disertai perilaku obsesi dan stalking (menguntit) idolanya.

 • Grandiose (waham kebesaran), keyakinan bahwa dirinya memiliki kelebihan yang tak dimiliki orang lain. Contoh keyakinan bahwa dirinya adalah penguasa alam semesta atau seorang raja.

 • Jealous (waham cemburu), keyakinan bahwa pasangannya selingkuh dan tidak setia tanpa ada buktinya. Pada kasus yang ekstrem bisa membuat seseorang mencelakai pasangannya karena merasa dikhianati. 

 • Persecutory (waham curiga), keyakinan bahwa ada orang yang selalu mengawasi dirinya dan akan berbuat jahat. Akibatnya ia selalu mencurigai orang sekitarnya.

 • Somatic, keyakinan bahwa dirinya memiliki masalah fisik atau penyakit tertentu, misalnya percaya bahwa ada parasit yang menginfeksi tubuhnya sehingga menimbulkan bau badan.

 • Waham nihilistik, keyakinan bahwa dirinya sudah mati. Akibatnya ia tidak lagi peduli pada apapun yang ada di sekitarnya.

 • Waham agama, keyakinan bahwa dirinya memiliki kelebihan dalam bidang agama, kadang menganggap dirinya sebagai nabi atau bahkan Tuhan.


Ber Sam bung . . . 3

Semoga kita selalu sehat.


Related web https://www.suarawisata.com