Oleh dr achmad budi karyono
Kemarin tanggal 5 Mei diperingati sebagai Hari Bidan Internasional. Tahun 2026 ini, International Confederation of Midwives menetapkan tema 'One Million More Midwives’ atau ‘Satu Juta Lebih Bidan Lagi’.
Masyarakat dunia secara global masih membutuhkan banyak bidan. Agar mencukupi pelayanan kesehatan maternal, serta merespons krisis kekurangan tenaga medis demi keselamatan ibu dan bayi
Tugas utamanya memang menolong persalinan. Namun pada even preventif yang terkait dengan imunisasi, peran bidan tidak bisa diragukan lagi. Begitu juga disaat menjaga dan meningkatkan gizi anak bangsa dalam memerangi stunting, bidan bersama Nakes lain berada didepan.
Bidan adalah salah satu tenaga kesehatan vital yang selalu berhubungan dengan ibu, memiliki peran cukup menantang dan berat. Kita tidak boleh hanya melihat kiprah mereka yang di perkotaan. Justru mereka yang tersebar di pelosok desa, apalagi di daerah sulit atau terpencil terkadang sering terlewatkan.
Mereka berjuang di garda paling depan untuk kelangsungan ibu mulai kehamilan, melahirkan dan pasca melahirkan serta bayi yang dilahirkan. Selain itu, bidan juga harus berjuang untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Suatu perjuangan penuh resiko pekerjaan yang cukup berat dan menantang.
Tidak sekedar menolong persalinan, tanggung jawabnya pun sungguh berat. Melawan meroketnya angka kematian ibu serta bayi, walau sebenarnya tidak dilakukan oleh bidan sendiri. Tetapi sering kali karena kurang tersedianya tenaga kesehatan yang lain, mengharuskan bidan seakan berjuang tanpa pendamping. Padahal angka kehamilan ibu pada akhir-akhir ini sulit bisa ditekan.
Disamping itu, tidak sedikit program ikutan yang seakan satu paket, harus dilakukan. Imunisasi dasar pada Balita, melekat erat pada tugas bidan. Terutama di daerah terpencil yang tenaga kesehatannya terbatas. Termasuk ProgNas (Program Nasional) yang terkait Stunting, seakan juga dibebankan pada bidan.
Itulah perjuangan berat bidan di seluruh jagat ini, terutama mereka yang berada di daerah pelosok apalagi di tempat yang sulit terjangkau. Faktor geografi merupakan kendala utama. Yang sering terjadi, faktor ketenagaan sudah tercukupi ketersediaannya, tetapi belum diimbangi dengan rekrutmen serta distribusi yang merata penempatannya.
Dengan hari peringatan ini, diharapkan menggugah semua stakeholder yang terkait, untuk mewujudkan harapan peran bidan sebagai salah satu penekan AKI dan AKB, yang seharusnya bisa kita raih bersama.
Selamat berjuang para bidanku melawan tantangan dengan tetap semangat.
Semoga kita selalu sehat. (Abk)

No comments:
Post a Comment