Skip to main content

Kenali dan Sikapi OCD Sejak Dini

 


Oleh : DeNing K 


Dalam waktu satu jam sudah ketiga kalinya Si A bolak balik masuk ke kamar untuk merapikan sprei tempat tidurnya. Dia selalu merapikan tempat tidurnya berulang kali meski sudah rapi. Pada mulanya orang tua Si A menganggapnya hal biasa saja, tetapi makin lama kebiasaan itu makin mengganggunya. Gara-gara kebiasaan itu, Si A sering terlambat ke sekolah.

Atau pernahkah anda meninggalkan rumah dengan merasa bahwa rumah belum dikunci, sehingga lebih 5 kali anda mengeceknya.

Obsessive Compulsive Disorder (OCD) adalah gangguan mental yang mendorong penderitanya untuk melakukan tindakan tertentu secara berulang-ulang. Tindakan tersebut ia lakukan untuk mengurangi kecemasan dalam pikirannya.

Gangguan obsesif kompulsif dapat dialami oleh siapa saja dari semua kelompok usia, tetapi paling sering muncul di usia 7–17 tahun. Penderita OCD biasanya menyadari bahwa pikiran dan tindakannya berlebihan, tetapi mereka tidak bisa melawannya.


Obsessive compulsive disorder (OCD) adalah gangguan mental yang membuat penyandangnya tidak punya kontrol atas pikiran-pikiran tidak logis serta perilaku yang berulang.

Penderita OCD bisa terjebak di dalam siklus perbuatan dan pikiran berulang yang tidak ada hentinya.

Melakukan “ritual” tersebut bisa menghentikan perasaan cemas sementara

Akan tetapi, penderita akan melakukan “ritual” itu lagi di saat pikiran obsesifnya (tidak logis) muncul lagi. 

Siklus tersebut dapat menyita waktu penderita OCD bahkan hingga berjam-jam, yang mengganggu aktivitas harian normal mereka.

Penderita gangguan obsesif kompulsif ini biasanya akan berusaha menghindari pencetus obsesinya. Penderita dewasa bahkan sebagian besar menyadari kalau ritual yang dilakukan tidaklah masuk akal.  

Hanya saja, mereka tidak tahu cara menghentikannya. Gejala pun bisa datang dan pergi, serta mereda atau memburuk, seiring waktu.


Penyebab

Penyebab penyakit obsessive compulsive disorder (OCD) belum diketahui dengan pasti. 

Namun, beberapa faktor risiko berikut sudah diketahui hubungannya:

1.Genetik

Faktor risiko OCD akan meningkat jika keluarga lingkar pertama, seperti orangtua, saudara kandung, atau anak mengalami gangguan ini. 

2.Struktur dan Fungsi Otak

Pasien OCD menunjukkan adanya perbedaan struktur pada bagian korteks frontal (bagian otak di belakang dahi) yang bertugas untuk berpikir, merencanakan, memutuskan, mengontrol emosi dan tubuh, memahami diri sendiri, dan berempati.

3.Lingkungan

Mereka yang mengalami riwayat kekerasan baik fisik, psikis, maupun seksual saat anak-anak ataupun trauma kekerasan lainnya, berisiko lebih besar alami OCD.

.Gejala gangguan OCD biasanya berupa :

-takut kuman

-takut melakukan kesalahan

-takut akan dipermalukan atau berperilaku yang tidak diterima secara sosial

-pikiran agresif tentang diri sendiri atau orang lain

-pikiran ragu-ragu yang berlebihan dan keperluan untuk memastikan berulang-ulang

Gejala yang terjadi umumnya meliputi :

-mandi atau bersih-bersih atau mencuci tangan berlebihan dan berulang-ulang

-menolak untuk berjabat tangan atau memegang pegangan pintu

-mengurutkan dan menata barang dengan cara yang tepat dan khusus

-memeriksa sesuatu berulang-ulang, seperti berulang kali memeriksa pintu yang terkunci

-berhitung secara kompulsif

-makan dengan urutan spesifik

-terjebak pada kata-kata, gambar atau pikiran yang biasanya mengganggu dan tidak akan hilang dan -bahkan mengganggu ketika tidur

-perlu melakukan tugas dalam beberapa kali

-mengumpulkan atau menimbun barang tanpa nilai jelas


Penderita OCD perlu mendapatkan pertolongan dengan tujuan untuk mengendalikan gejala yang muncul, agar kualitas hidup penderitanya bisa membaik. 

Dokter akan menentukan diagnosis Obsessive Compulsive Disorder (OCD) dari pemeriksaan gejala-gejala yang ditampakkan oleh penderitanya. Selain itu, dokter juga dapat menentukannya pengobatan yang tepat melalui wawancara yang mendalam.


Semoga kita selalu sehat.


Sumber :www.mayoclinic.org


Info wisata dan cafe bergizi serta berbagi pengalaman teknomu agar bisa sehat dan bahagia

Comments

© 2020 Suara Medika