Latest News

Peran Penting Ayah Dalam Membangun Mental Tangguh



PERAN PENTING AYAH DALAM MEMBANGUN MENTAL TANGGUH

By. Prof Sri Minarti *)


Hari ini awal masuk ajaran baru tahun 2026-2027,  tulisan ini terinspirasi dari aktivitas Bapak² yg ijin tidak masuk kerja karena harus mengantarkan putra putri nya ke sekolah, dan suatu pemandangan yg agak berbeda, karena biasanya para ibu yang mengantar.


Peran ibu sering kali menjadi sorotan utama dalam hal pengasuhan, namun, keterlibatan seorang ayah (father involvement) memiliki dampak yang unik, spesifik, dan tidak dapat digantikan dalam membentuk ketangguhan mental, keberanian, serta regulasi emosi anak.


Ayah bukan sekadar "penyedia" materi, melainkan arsitek penting bagi fondasi psikologis anak untuk menghadapi dunia luar.


Salah satu cara khas ayah berinteraksi dengan anak-anak mereka (terutama pada usia dini) adalah melalui permainan fisik yang aktif atau rough-and-tumble play (seperti gulat ringan, kejar-kejaran, atau menggendong di bahu). 


Dampak pada mental dari permainan ini adalah mengajarkan anak tentang batasan fisik, pengelolaan risiko, dan regulasi emosi saat tingkat stres atau kegembiraan sedang tinggi. Anak belajar bagaimana caranya "bangkit kembali" setelah terjatuh dalam lingkungan yang aman.


Hasilnya anak menjadi lebih berani mengambil risiko yang terukur dan tidak mudah menyerah saat menghadapi tantangan fisik maupun mental.


Secara psikologis, ibu cenderung memberikan rasa aman yang intim (attachment), sementara ayah sering kali berperan menarik anak sedikit keluar dari zona nyaman tersebut untuk memperkenalkan mereka pada realitas dunia luar.


Dampak pada mental, ayah cenderung menantang anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri sebelum turun tangan membantu. Gaya pengasuhan ini menumbuhkan kebiasaan problem-solving dan kemandirian.

Hasilnya anak akan mengembangkan self-efficacy (keyakinan pada kemampuan diri sendiri) yang tinggi, yang merupakan pilar utama dari mental yang tangguh.


Keterlibatan ayah yang positif terbukti secara ilmiah menurunkan risiko anak mengalami gangguan kecemasan (anxiety) dan depresi di masa remaja.


Dampak pada mental ketika seorang ayah hadir secara emosional, memberikan validasi tanpa bersikap terlalu protektif (over protective), anak belajar bahwa emosi negatif seperti kegagalan atau kekecewaan adalah hal yang normal dan bisa diatasi.


Hasilnya anak memiliki kontrol diri (self-regulation) yang lebih baik dan tidak mudah hancur saat menghadapi tekanan sosial atau akademik.


Bagi anak laki-laki, ayah menjadi role model utama tentang bagaimana mengelola amarah, menunjukkan kekuatan tanpa kekerasan, dan mengekspresikan emosi secara sehat.


Bagi anak perempuan, kehadiran ayah yang suportif meningkatkan rasa percaya diri (self-esteem) secara signifikan. Anak perempuan yang dekat dengan ayahnya cenderung memiliki standar yang sehat dalam hubungan interpersonal dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan teman sebaya (peer pressure).


Kesimpulan:

Mental yang tangguh tidak tumbuh dari lingkungan yang bebas masalah, melainkan dari adanya sistem pendukung yang mengajarkan anak cara menghadapi masalah tersebut. Ayah adalah sosok ideal untuk menantang sekaligus melindungi, memberikan formula yang pas bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang adaptif, kuat, dan berani. Jadikan moment ke sekolah bersama ayah sebagai bentuk edukasi dalam menyiapkan generasi tangguh, ajak bercakap, bermain, bercanda, dan berikan keteladanan yg positif, salam sehat dan kuat untuk para ayah.


Referensi: 

Paquette, D. (2004). An evolutionary perspective on gestures of attachment and activation: The role of father-child relationships. Human Development, 47(4), 211-219.

Fletcher, R., StGeorge, J., & Freeman, E. (2013). Rough and tumble play and the development of children's emotional regulation. Early Child Development and Care, 183(6), 745-759.

Catatan: Penelitian ini menunjukkan hubungan langsung antara permainan fisik ayah-anak dengan kemampuan anak dalam mengelola emosi dan agresi.


Sarkadi, A., Kristiansson, R., Oberklaid, F., & Bremberg, S. (2008). Fathers' involvement and children's developmental outcomes: a systematic review of longitudinal studies. Acta Paediatrica, 97(2), 153-158.

Catatan: Sebuah tinjauan sistematis yang membuktikan bahwa keterlibatan aktif ayah secara jangka panjang mengurangi masalah perilaku pada anak laki-laki dan depresi pada anak perempuan, serta meningkatkan kapasitas kognitif.


Grossmann, K., Grossmann, K. E., Fremmer-Bombik, E., Kindler, H., Scheuerer-Englisch, H., & Zimmermann, P. (2002). The uniqueness of the child-father attachment relationship: Fathers' sensitive and challenging play as a pivotal variable in a 16-year longitudinal study. Social Development, 11(3), 307-331.

Catatan: Studi longitudinal selama 16 tahun ini menemukan bahwa cara ayah menantang anak dalam bermain menjadi prediksi kuat bagi ketangguhan anak di masa dewasa.


Semoga kita selalu sehat.


*) Sri Minarti adalah guru besar bidang Manajemen Pendidikan Islam di UNU Sunan Giri Bojonegoro, sekretaris Dewan Pakar ICMI Orda Bojonegoro, Divisi pendidikan MUI Kab. Bojonegoro.

No comments:

Post a Comment

Suara Medika Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Roofoo. Powered by Blogger.