Skip to main content

Cara Jitu Cegah Stunting

 


Oleh : Ayu Fitri H SGz


Stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Stunting juga menjadi salah satu penyebab tinggi badan anak terhambat, sehingga lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya.


Apa penyebab Stunting ?

  1. Kurangnya asupan gizi yang diterima oleh janin/ bayi. Kekurangan gizi bisa terjadi sejak bayi dalam kandungan pada masa awal anak lahir tetapi stunting baru nampak setelah anak berusia 2 tahun

  2. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi

  3. Kesehatan ibu hamil dan balita kurang terpantau (masih ada bumil yang belum periksa rutin, D/S rendah, bumil tidak rutin minum tablet Fe

  4. Kondisi ekonomi yang kurang sehingga tidak mampu membeli makanan bergizi

  5. Kurangnya sanitasi sehingga Balita mengalami penyakit infeksi sehingga mempengaruhi status gizi misalnya diare, cacingan, TBC

  6. Pola asuh (praktek pengasuhan yang kurang baik) misalnya bayi tidak diberi ASI eksklusif, makanan yang diberikan tidak sesuai umur.


Apa saja dampak buruk dari Stunting ?

  1. Jangka Pendek : Terganggunya perkembangan otak dan kecerdasan, mudah sakit, fungsi tubuh tidak seimbang

  2. Jangka Panjang : Menurunnya prestasi belajar, kekebalan tubuh menurun, saat tua berisiko terkena penyakit berhubungan dengan pola makan

 

Bagaimana cara mudah mencegah Stunting ?

  1. Memberikan gizi yang cukup selama 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) yaitu 270 hari dalam kandungan (9 bulan) dan 730 hari setelah lahir

  2. Inisiasi menyusui dini (IMD)

  3. Memberikan ASI eksklusif

  4. Ibu hamil mendapat minimal 90 tablet tambah darah selama hamil

  5. Melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

  6. Imunisasi lengkap

  7. Memberikan vitamin A Februari dan Agustus

  8. Memberikan Makanan Pendamping ASI untuk bayi diatas 6 bulan hingga 2 tahun

  9. Pantau pertumbuhan balita secara rutin di Posyandu

  10. Memulai MPASI setelah usia Si Kecil 6 bulan 


Protein merupakan salah satu nutrisi yang sangat berperan dalam proses tumbuh kembang anak. Selain bisa menjadi sumber energi, zat gizi satu ini juga dibutuhkan untuk membangun dan memelihara jaringan tubuh yang rusak.


Tak hanya itu, protein juga berperan sebagai penyusun otot dan penting dalam memelihara serta meningkatkan daya tahan tubuh. Inilah sebabnya protein tidak boleh dilewatkan dari menu MPASI anak.


6 Pilihan Makanan Tinggi Protein untuk MPASI Anak


Setelah berusia 6 bulan, umumnya anak mulai bisa diberikan makanan pendamping ASI (MP ASI). Tentunya, di dalam MPASI diharapkan tercakup semua nutrisi yang dibutuhkan anak, termasuk protein. Protein bisa berasal dari hewan (protein hewani) dan juga dari tumbuhan (protein nabati).

Nah, agar kebutuhan protein anak bisa terpenuhi, ada 6 pilihan makanan tinggi protein yang bisa Bunda masukkan ke dalam menu MPASI anak, yaitu:


1. Daging ayam

Daging ayam merupakan salah satu sumber protein hewani yang cukup mudah ditemukan di pasar atau pusat perbelanjaan. Cara mengolah jenis makanan ini juga tidak sulit. Bunda bisa mengolahnya menjadi kaldu atau campuran dalam MPASI anak.

Dalam 100 gram daging ayam bagian dada terdapat sekitar 31 gram protein. Selain protein, daging ayam juga mengandung vitamin B12, zat besi, zinc, dan kolin. Bahkan, ayam diketahui mengandung asam amino triptofan yang dipercaya bisa meningkatkan hormon serotonin yang mampu memperbaiki mood.


2. Ikan

Salah satu ikan yang sering dimasukkan ke dalam menu MPASI anak adalah ikan salmon. Tidak heran memang, karena di dalam 100 gram ikan salmon terkandung protein yang cukup tinggi, yakni sekitar 20 gram.

Selain ikan salmon, beberapa jenis ikan lain, seperti ikan gabus, ikan lele, dan ikan bandeng, juga mengandung tinggi protein. Dalam 100 gram ikan lele sendiri, terkandung sekitar 15 gram protein.

Selain protein, ikan umumnya juga mengandung omega-3 dan DHA yang baik untuk perkembangan otak anak. Ikan bisa diberikan sebagai menu MPASI anak sebanyak 1–2 kali seminggu.


3. Daging sapi

Dalam 100 gram daging sapi terdapat 17 gram protein. Daging sapi juga mengandung gizi penting lain, seperti zinc, zat besi, dan vitamin B12. Mengonsumsi daging sapi akan membantu mendukung pertambahan berat badan anak dan menjaga massa ototnya.

Untuk mendapatkan manfaat daging sapi secara optimal, mengolah daging dengan cara direbus atau dipanggang.


4. Telur

Telur ayam, bebek dan puyuh merupakan beberapa pilihan jenis telur yang tidak sulit ditemukan di pasaran. Selain enak, telur juga termasuk ke dalam salah satu pilihan makanan tinggi protein yang bisa dimasukkan ke dalam menu MPASI anak.

Dalam 100 gram telur, baik telur ayam maupun bebek, umumnya terkandung sekitar 11 gram protein. Telur juga mengandung kalium yang bisa mendukung perkembangan kognitif anak. Selain itu, bagian kuning telur mengandung lutein dan zeaxanthin yang bermanfaat dalam meningkatkan kesehatan mata anak.

Kendati bermanfaat, pemberian telur kepada anak tidak boleh berlebihan. Jumlah telur yang aman dikonsumsi oleh anak adalah 1 atau 2 butir per hari. Selain itu, pastikan telur yang diberikan ke Si Kecil telah matang sempurna.


5. Kacang-kacangan

Beberapa jenis kacang, seperti kacang almond dan kacang tanah, mengandung protein yang cukup tinggi. Dalam 100 gram kacang almond mengandung sebanyak 21 gram protein, sedangkan dalam 100 kacang tanah mengandung 27 gram protein.

Sebelum usia Si Kecil 2 tahun, sebisa mungkin hindari memberikan jenis makanan ini dalam bentuk utuh guna mencegah bayi tersedak. Kacang diolah menjadi hidangan yang lumat sehingga lebih mudah ditelan oleh anak.

Perlu diketahui, kacang-kacangan merupakan jenis makanan pemicu alergi. Jadi, perlu berhati-hati saat mengenalkan jenis makanan satu ini ke Si Kecil, ya.

Jika setelah pemberian kacang timbul gejala alergi, seperti gatal-gatal, kemerahan, mual, muntah, dan diare, maka segera hentikan pemberian kacang dan periksakan anak ke dokter untuk mendapatkan penanganan.


6. Tempe dan tahu

Ketika membicarakan makanan tinggi protein, tentunya panganan yang terbuat dari kacang kedelai ini tidak boleh dilewatkan ya, Bun. Pasalnya, dalam 100 gram tempe terkandung sekitar 21 gram protein, sedangkan dalam 100 gram tahu terkandung sekitar 11 gram protein.

Selain protein, tempe juga mengandung serat yang baik untuk kesehatan sistem pencernaan anak, sedangkan tahu mengandung kalsium yang baik untuk kesehatan tulang anak.


Memberikan makanan tinggi protein merupakan hal penting yang harus di lakukan. Tetapi, agar tumbuh kembang Si Kecil maksimal, jangan lupa juga untuk memasukkan karbohidrat, lemak, serat, serta vitamin dan mineral, dalam jumlah yang seimbang di dalam menu MPASI anak.


Selain itu juga apa sih yang kita perhatikan juga yaitu A, B, C, D dan E

 (A) Aktif minum Tablet Tambah Darah (TTD)

  • Konsumsi TTD bagi remaja putri 1 tablet seminggu sekali.

  • Konsumsi TTD bagi Ibu hamil 1 tablet setiap hari (minimal 90 tablet selama kehamilan)

(B) Bumil teratur periksa kehamilan minimal 6 kali

  • Periksa kehamilan minimal 6 (enam) kali, 2 (dua) kali oleh dokter menggunakan USG

(C) Cukupi konsumsi protein hewani

  •  Konsumsi protein hewani setiap hari bagi bayi usia di atas 6 bulan

(D) Datang ke Posyandu setiap bulan

  • Datang dan lakukan pemantauan pertumbuhan (timbang dan ukur) dan perkembangan, serta imunisasi balita ke posyandu setiap bulan

(E) Eksklusif ASI 6 bulan

  •   ASI eksklusif selama 6 bulan dilanjutkan hingga usia 2 tahun



Semoga kita selalu sehat.


Info wisata dan cafe bergizi serta berbagi pengalaman teknomu agar bisa sehat dan bahagia

Comments

© 2020 Suara Medika