Oleh dr achmad budi karyono
Setiap tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional. Harapan masa depan dan penguatan ekosistem perfilman yang inklusif serta berkelanjutan.
Film masih ada? Tentu masih ada. Di bioskop? Belum tentu.
Pada 3 dekade yang lalu film masih beredar dari kota ke kota. Diputar di beberapa bioskop, karena hanya disitulah tempat resminya.
Namun saat itu film sudah mulai diputar di luar bioskop. Di beberapa rumah bisa menonton film dengan alat video kaset atau VCD. Di lapangan pun, kita terkadang bisa menemui tontonan bioskop, layar tancap atau misbar.
Kaset video dan VCD yang berbayar sempat menikmati kejayaannya di akhir abad yang lalu. Setelah melewati tahun 2000 semakin pudar, dan dunia perfilman mulai bertebaran di dunia maya. Tetapi justru mulai jarang pula kita nonton film di TV.
Di akhir kejayaan bioskop, pernah pula kita nikmati sajian film di arena yang cukup eksklusif. Beberapa Cinemax menjadi sebuah simbol prestise kalau kita bisa menonton film disana.
Ada pula sajian khusus, pemutaran film yang dilengkapi beberapa sarana pendukung yang memberikan nilai tambah. Efek visual 3D dan efek sound Dolby. Dilengkapi pula dengan efek mekanik, dengan menggoyang kursi yang disesuaikan visual 3D real time. Kita tidak hanya menonton film, seakan kita sedang merasakan keberadaan seperti dalam film itu.
Saat ini film, selain disajikan di setiap genggaman, misal lewat Netflix, juga bisa kita temui mini bioskop, sebagai bagian dari sebuah mini market. Sebuah bioskop yang menyiapkan sekitar 30 kursi dengan efek visual dan sound terkini. Ternyata perfilman nasional bisa berkelanjutan, sesuai dengan harapan dari tema Hari Film ini.
Namun pertimbangan kesehatan harus kita cermati dan waspadai serta kita utamakan. Boleh mencari hiburan, namun faktor kesehatan harus kita utamakan.
Semoga kita selalu sehat. (Abk)

No comments:
Post a Comment