Latest News

Keris Budaya

 


Oleh dr achmad budi karyono 

Hari Keris Nasional diperingati setiap tanggal 19 April. Pada tahun 2026 ini memasang tema ‘Keris untuk Abdi Negara’, yang mendudukkan bahwa partisipasi peran keris dalam memperkuat pengabdian dan persatuan.


Keris merupakan senjata tajam sejenis belati yang memiliki posisi sangat istimewa dalam kebudayaan Nusantara, khususnya di Jawa. Tujuan utama keris sebagai alat pertahanan diri. Keris sudah diakui oleh UNESCO sebagai ‘Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity’ sejak tahun 2005.


Kepemilikan keris bersifat pribadi serta menunjukkan kepribadian dan saling mempengaruhi pemiliknya. Berikut ini beberapa penjelasan mengenai keris dari berbagai sudut pandang:

1. Anatomi

Sebuah keris umumnya terdiri dari tiga bagian utama Mata Keris (Bilah), Hulu (Gagang atau pegangan), dan Warangka (Sarung, cover).


2. Karakteristik

 Bilah Berkelok (Luk), Keris bisa berbentuk lurus atau berkelok. Jumlah kelokan (luk) selalu berjumlah ganjil (misalnya luk 3, 5, 7, hingga 13).

 Pamor, Pola dekoratif pada bilah yang terbentuk dari campuran logam (biasanya besi, baja, dan nikel meteorit) melalui teknik tempa lipat. Pamor bukan sekadar hiasan, melainkan simbol doa atau harapan pembuatnya.

 Dhapur, Merupakan klasifikasi bentuk keris secara keseluruhan yang memiliki ratusan variasi nama, tergantung pada kelokan dan ricikan (atribut detail pada bilah).


3. Proses Pembuatan

Keris dibuat oleh seorang ahli yang disebut Mpu. Pembuatannya bukan sekadar menempa logam, melainkan sebuah proses spiritual.

 Teknik Tempa Lipat, Bilah keris dibuat dengan melipat lapisan logam berkali-kali, menghasilkan kekuatan tinggi dan pola pamor yang indah.

 Pemilihan Hari, Tradisinya, seorang Mpu akan memilih hari baik dan melakukan ritual tertentu agar keris yang dihasilkan memiliki ‘jiwa’ atau nilai filosofis yang selaras dengan calon pemiliknya.


4. Fungsi dan Makna Filosofis

Dalam perkembangannya, fungsi keris telah bergeser dari alat perang menjadi simbol identitas.

Sipat Kandel, Keris dianggap sebagai benda pusaka yang menjadi ‘pendamping’ spiritual bagi pemiliknya.

Simbol Status, Menunjukkan kedudukan sosial atau jabatan seseorang dalam strata masyarakat tradisional.

Pelengkap Busana, Bagian tak terpisahkan dari pakaian adat (beskap/kebaya) dalam upacara pernikahan atau acara formal.

Objek Seni, Dinilai dari keindahan estetika garapan logam, ukiran kayu pada gagang, dan perhiasan pada sarungnya.


5. Etika Penggunaan

Beberapa tata cara khusus dalam mengenakan keris, terutama di lingkungan keraton :

Letak, Di Jawa, keris umumnya diletakkan di pinggang bagian belakang sebagai simbol kerendahan hati dan kontrol diri (bahwa kekuatan tidak untuk dipamerkan).

Cara Membuka, Menghunus keris memiliki etika tertentu agar tidak dianggap sebagai tantangan atau ancaman terhadap orang lain.


Keris merupakan perpaduan antara keterampilan metalurgi tingkat tinggi dengan kekayaan spiritual masyarakat Indonesia yang masih terus dilestarikan hingga saat ini sebagai identitas bangsa.


Keris merupakan sebuah alat. Kekuatan dan kendali yang sesungguhnya berada ditangan seseorang. Seperti pepatah yang kita kenal ‘The Man behind the Gun’.


Semoga kita selalu sehat. (Abk)

No comments:

Post a Comment

Suara Medika Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Roofoo. Powered by Blogger.