Oleh : BundaSriMin *)
*Inspirasi Pagi*
Ada banyak cara yg dijalani oleh manusia agar kehidupan nya bermakna/berarti bagi diri sendiri sesama maupun sang pencipta nya, ada yang sukses dan kemungkinan kegagalan juga bisa, mengapa terjadi?
Hari ini akhir bulan Ramadhan 1447H, momen yang tepat untuk mendeteksi diri, apakah puasa yg dijalani mampu membawa pada peningkatan kehidupan sehingga menjadi bermakna atau belum?
Hidup bermakna memiliki beberapa unsur yaitu, keimanan, ilmu, ibadah, dan kebermanfaatan. Hidup bermakna dalam pandangan Islam bukan sekadar tentang mengejar kesuksesan duniawi atau kebahagiaan sementara. Makna hidup yang sejati berakar pada hubungan antara makhluk dengan Penciptanya dan dampak positif yang ditinggalkan bagi sesama.
Hidup bermakna dalam Islam pertama dimulai dengan menyadari bahwa manusia diciptakan untuk tujuan mulia, yaitu beribadah kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku." (QS. Az-Dzariyat: 56)
Ibadah di sini tidak hanya ritual (salat, puasa), tetapi mencakup seluruh aktivitas sehari-hari yang diniatkan untuk mencari keridhaan Allah.
Kedua menjadi pemimpin di bumi.
Manusia diberikan amanah sebagai pengelola bumi. Hidup menjadi bermakna ketika manusia mampu mengambil peran aktif dalam
+ membangun peradaban yang beretika,
+ menjaga kelestarian alam,
+ menegakkan keadilan dan kebenaran.
Ketiga, menjalankan prinsip Anfa'uhum Linnaas (kemanfaatan)
Islam sangat menekankan bahwa kualitas hidup seseorang diukur dari seberapa besar manfaatnya bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad)
Hidup yang bermakna adalah hidup yang diisi dengan berbagi ilmu, harta, tenaga, atau sekadar senyuman yang meringankan beban orang lain.
Dan keempat, keseimbangan dunia dan akhirat.
Hidup bermakna tidak berarti meninggalkan dunia secara total (asketisme). Justru, dunia adalah ladang untuk menanam kebaikan yang hasilnya akan dipetik di akhirat, konsepnya adalah,
+ kerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidup,
+ zuhud, yakni menaruh dunia di tangan (sebagai alat), bukan di hati (sebagai tujuan utama).
Dengan ilmu dan mempraktekkan dalam kehidupan, maka kata bermakna akan kita dapatkan
Ya Allah ampunilah kekhilafan kami, aamiin
Semoga bermanfaat
Semoga kita selalu sehat
Purwosari, 18 Maret 2026
SriMinarti10Bjn
*) Prof Sri Minarti Bojonegoro

No comments:
Post a Comment