Oleh dr achmad budi karyono
Tanggal 21 Maret diperingati sebagai Hari Hutan Internasional atau International Day of Forest. Di tahun 2026 memasang tema ‘Forest and Economic’ atau ‘Hutan dan Ekonomi’.
Hutan memang masih ada, walau sudah berkurang. Hutan, dulu sering kita temukan di kanan kiri jalan lintas antar kota. Bahkan kita masih sering melewati hutan yang panjang dan lebat. Terkesan menyeramkan. Kalaupun bukan hutan, kita akan menemui hamparan sawah.
Pemandangan seperti itu, saat ini jarang atau sulit kita temui. Di sepanjang perjalanan antar kota, sepertinya terus menerus kota. Karena hampir tidak ada jeda perumahan di sepanjang perjalanan. Seakan hutan yang dulu ditepi jalan antar kota, pindah ke lereng bukit, itu pun kalau masih ada.
Saat ini, hutan seakan dikalahkan. Lahan hutan yang saat itu lebat dan tampak hijau serta rimbun, sekarang sudah berubah. Mungkin tetap tampak hijau dari kejauhan, yang diwarnai oleh ilalang dan tumbuhan perdu, bukan oleh pohon.
Hal itu akan mempengaruhi ekosistem di area yang cukup luas, bukan hanya di sekitar hutan saja. Bahkan dampak yang ditimbulkan bisa sampai jauh di hilir sana. Bisa mengakibatkan bencana yang luas.
Hutan dan ekonomi, bisa ditafsirkan hutan bernilai ekonomis. Hal ini tentu bisa dikelola, atau direncanakan dengan baik. Pada prinsipnya, hutan harus dipelihara dengan baik, dilestarikan keberadaannya. Dalam pengelolaan itu bisa didapatkan profit tanpa mengganggu kuantitas maupun kualitas hutan.
Hutan sangat bernilai ekonomis. Namun hutan harus dikelola dengan baik agar tidak mengakibatkan bencana.
Semoga kita selalu sehat. (Abk)

No comments:
Post a Comment