Oleh dr achmad budi karyono
Di negeri ini, 18 Maret diperingati sebagai Hari Arsitektur Indonesia. Momen ini sebagai bentuk apresiasi terhadap para arsitek dalam mencipta ruang bercengkrama, bentuk rumah sebagai identitas bangsa serta pelestarian heritage di masa lampau.
Berbagai suku bangsa di negeri ini, masing masing berkontribusi serta memberi warna kehidupan, termasuk aneka ragam bentuk dan gaya bangunan. Semua itu hasil peran arsitek dari setiap suku bangsa yang pernah menikmati kehidupan di negeri yang subur ini.
Beberapa bangunan kuno sebagai heritage masih kokoh berdiri tegak di keramaian kota negeri ini. Arsitektur nya cukup cantik, mencuri pandangan mata dan memukau perhatian. Bahkan beberapa bangunan baru, sengaja menduplikasi arsitektur kuno agar terkesan sebagai heritage.
Rumah joglo atau gaya Jawa kuno paling banyak disukai. Hampir semua komponen terbuat dari kayu, dengan arsitektur yang melambangkan kekuatan, balok jati yang besar utuh dan kokoh atau keindahan, kayu jati yang penuh ukiran. Sering kali pula ukiran nya bermakna cerita kehidupan.
Itulah pentingnya sebuah nilai heritage. Semua yang ada di dunia ini memiliki perjalanan kehidupan, atau sebuah sejarah. Cerita kehidupan yang baik, akan dikenang dan dilestarikan. Dan kita pelajari serta analisa hikmah dibalik itu semua.
Arsitektur bangunan hunian, tidak sekedar tentang keindahan bentuk atau ruangan. Arsitek akan mendesain sebuah ruangan yang bisa dan akan meningkatkan kualitas kehidupan penghuni nya. Semua aspek akan dipertimbangkan mulai dari lokasi, iklim, kondisi alam sekitar, dan lainnya. Sehingga bisa tercipta landmark yang ikonik, seperti halnya rumah joglo dan lainnya.
Kreatifitas para arsitek muda diharapkan akan penuh menghiasi hunian baru. Pengaruh transformasi digital tidak dapat dihindari, sehingga sangat mungkin akan tercipta hunian yang kekinian pula.
Semoga kita selalu sehat. (Abk)

No comments:
Post a Comment