Skip to main content

TB Harus ProKes?

 

Hari TB dunia

Oleh : dr Achmad Budi Karyono 

Setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Dunia. Pada tahun 2024 ini mengangkat tema “Yes! Kita bisa mengakhiri TBC”.

TBC masih merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia dan dalam beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan yang mengkhawatirkan pada kasus TBC yang resisten terhadap obat.

Hampir semua penyakit, termasuk TBC seakan tenggelam. Kurang atau tidak diperhatikan atau tersingkirkan dengan adanya penyakit pendatang baru yang sangat ganas. Hal demikian dikarenakan oleh ditetapkannya dunia dalam kondisi pandemi yang disebabkan covid-19. Dan sejak 5 Mei tahun 2023, status pandemi sudah dicabut.

Penyakit TB ini termasuk khusus, baik jenis penyakitnya maupun cara penanganan termasuk obatnya serta sikap dan dukungan keluarga. Berikut ini sedikit info yang terkait dengan tuberkulosis. Kita bisa memberantas TB sesuai tema, kalau memahami hal yang terkait TB.

Apa itu TB ?

TB atau TBC  merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru-paru, tetapi dapat juga menyerang organ atau bagian tubuh lainnya (misalnya : tulang, kelenjar, kulit, dll). TB dapat meyerang siapa saja, terutama usia produktif/masih aktif bekerja (15-50 tahun) dan anak-anak. TB dapat menyebabkan kematian. Apabila tidak diobati, 50% dari pasien TB akan meninggal setelah 5 tahun. TB bukan penyakit turunan, bukan disebabkan oleh kutukan ataupun guna-guna.

Gejala TB

Gejala utama TB adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Gejala lain TB adalah dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, dada terasa nyeri, demam meriang lebih dari sebulan, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik.

Pengobatan TB

Setelah dinyatakan positif TB, pasien diberi obat yang harus diminum secara teratur sampai tuntas selama 6-8 bulan. Penyakit TB dapat menyebabkan kematian jika tidak diberi obat. Selama masa pengobatan diperlukan pemeriksaan dahak pada tahap awal pengobatan, 1 (satu) bulan sebelum masa pengobatan berakhir, akhir pengobatan. Obat TB diberikan secara gratis dan dapat diperoleh di puskesmas/rumah sakit.

Pencegahan Penularan TB

Untuk mencegah penularan kepada orang sehat, seorang pasien TB hendaknya :

-Menelan obat anti TB (OAT) secara lengkap dan teratur sampai sembuh.

-Menutup mulut pada waktu batuk dan bersih.

-Cuci tangan dengan sabun setelah tangan digunakan untuk menutup hidung/mulut pada waktu batuk dan bersin.

-Ventilasi yang cukup, sehingga udara segar dan sinar matahari masuk ke dalam rumah.

-Mengusahakan sinar matahari masuk ke ruang tidur. Menjemur alat-alat tidur sesering mungkin, karena kuman TB mati oleh sinar matahari.

-Tidak meludah di sembarang tempat, tetapi meludah di tempat tertentu seperti kaleng tertutup yang sudah diisi dengan sabun, karbol atau lisol. Buanglah dahak tersebut ke lubang WC atau timbun ke dalam tanah di tempat yang jauh dari keramaian.

-Bagi orang di sekitar pasien TB, agar menjaga daya tahan tubuhnya dengan makan makanan yang bergizi dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Bagi Keluarga, Kader Dan Lingkungan Pasien TB.

+Anjurkan orang yang mempunyai gejala TB untuk segera memeriksakan diri ke sarana pelayanan DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse).

+Awasi pengobatan sampai sembuh/selesai.

+Ajarkan dan anjurkan perilaku hidup bersih dan sehat tanpa TB.

+Imunisasi BCG bagi balita untuk mencegah TB berat (misalnya : TB selaput otak dan TB paru berat)

DOTS (DIRECTLY OBSERVED TREATMENT SHORTCOURSE)

Strategi yang direkomendasikan untuk mengendalikan TB. DOTS terdiri dari lima komponen utama :

1.Komitmen politis atau kebijakaPemeriksaan dahak mikrokopis yang terjamin mutunya.

2.Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat termasuk pengawasan langsung pengobatan.

3.Jaminan ketersediaan obat anti TB (OAT) yang bermutu.Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan.

Itulah penyakit TB yang ‘setara’ dengan covid-19, karena menyerang saluran nafas yang mudah menular, dan seharusnya perlakuannya juga sama. Kita harus menghadapinya dengan cara melakukan ProKes 3M, karena cara penularan juga bisa dari udara yang tercemar oleh hembusan nafas si sakit. Dengan selalu memakai masker, diri kita terjaga dan orang lain juga akan terjaga.

Semoga kita selalu sehat. (Abk)

Info wisata dan cafe bergizi serta berbagi pengalaman teknomu agar bisa sehat dan bahagia

Comments

© 2020 Suara Medika