Oleh : dr achmad budi karyono
Hari ini 22 Januari diperingati sebagai Hari Pejalan Kaki Nasional.
Pejalan kaki menjadi salah satu aktivitas atau komponen masyarakat kota yang besar jasanya. Terutama berkontribusi terhadap berkurangnya gas emisi ataupun CO² yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Kesehatan lingkungan akan lebih terjaga dengan baik yang mendukung kesehatan masyarakat pula.
Yang tidak kalah pentingnya, para pejalan kaki berperan utama dalam mengurangi kemacetan kota. Sebuah transportasi umum yang berisi 50 orang yang pejalan kaki, berarti kendaraan yang berlalu lalang di jalan macet berkurang 50 motor dan atau mobil.
Hal ini merupakan sebuah efisiensi penggunaan ruang perkotaan. Sebuah kendaraan pribadi membutuhkan ruang yang cukup besar untuk bergerak serta lahan parkir. Sebaliknya, pejalan kaki sangat efisien serta hemat dalam penggunaan lahan.
Setiap pejalan kaki memiliki kecenderungan serta kemudahan lebih tinggi untuk mampir ke kios, kafe ataupun pedagang kaki lima yang dilewatinya. Sehingga memiliki peran sebagai penggerak ekonomi tingkat dasar. Dan peredaran uang rakyat semakin menyemarakkan kehidupannya.
Dengan berjalan kaki, kesehatan individu akan lebih baik. Kelenturan dan kekuatan otot makin kekar dan sehat. Begitu pula dengan jantung dan paru, seakan lebih terlatih dengan baik dan menjadi lebih sehat.
Sebaiknya sebuah kebijakan publik harus menyentuh dan bahkan mengutamakan para pejalan kaki. Kontribusi mereka adalah denyut nadi utama sebuah kota yang sehat, menghidupkan roda perekonomian rakyat, menyelamatkan kesehatan lingkungan serta kehidupan sosial yang makin berkembang.
Pejalan kaki harus dilindungi dan didukung oleh infrastruktur yang inklusif, seperti trotoar yang cukup serta nyaman, beberapa peneduh serta fasilitas penyeberangan yang aman. Dan ramah dengan disabilitas.
Semoga kita selalu sehat. (Abk)

No comments:
Post a Comment