Oleh : dr achmad budi karyono
Kemarin lusa 11 Januari diperingati sebagai Hari Tuna Rungu Nasional
Beberapa warga, mungkin di sekitar kita, menjadi penyandang tuna rungu. Mereka memiliki kondisi fisik yang ditandai dengan penurunan atau ketidak mampuan untuk mendengarkan suara secara normal.
Hal ini bisa terjadi karena beberapa sebab. Sebagian bisa dihindari atau dicegah, dan sebagian lagi tidak bisa dihindari.
Faktor genetik tertentu diduga menjadi salah satu penyebab tuna rungu. Namun yang terbanyak adalah karena infeksi saat kehamilan. Rubella, sifilis dan toxoplasmosis merupakan biang kerusakan pendengaran. Obat bebas tertentu tanpa resep, bisa juga merusak indera pendengaran.
Kelahiran prematur, berat badan lahir yang kurang atau bayi lahir kuning juga dikhawatirkan menjadi salah satu penyebab terganggunya fungsi pendengaran. Demikian juga pada bayi lahir dengan gangguan pernafasan, misal karena air ketuban. Semua ini mengakibatkan kurangnya oksigen. Yang dalam waktu tertentu bisa mengganggu indera tubuh termasuk pendengaran.
Infeksi telinga tengah yang menahun bisa merusak organ pendengaran. Penggunaan earbud atau headset yang berlebihan juga berdampak kerusakan pendengaran.
Indera pendengaran merupakan faktor utama yang penting dalam komunikasi, walau bisa dengan cara lain. Oleh karena itu menjaga kesehatan telinga harus dilakukan sejak dalam kehamilan.
Tuna rungu bisa dicegah dengan kontrol rutin saat kehamilan. Namun juga harus melakukan pola hidup sehat, terutama mencegah penyakit diatas, sebagai penyebab terjadinya kerusakan saraf pendengaran. Serta batasi pemakaian pengeras suara yang berlebihan.
Semoga kita selalu sehat. (Abk)

No comments:
Post a Comment