Oleh : BundaSriMin
*Inspirasi Pagi*
Hari kamis pagi jam 5 lebih 15 menit sdh berangkat dari rumah menuju Bojonegoro kota, mengantarkan ibuk untuk kontrol di klinik kesehatan, lima kali antrian yg sy ikuti, pertama antri dibagian pendaftaran, laporan bila antrian no 4 sdh sampai lokasi, sekalian sambil cek tensi, antri ke dua untuk cek EKG, antri ke tiga di cek dokter, antri ke empat di kasir untuk bayar (non BPJS), antri ke lima di apotek ambil obat, merupakan proses melatih kesabaran sekaligus perbanyak membaca istighfar dalam hati.
Dalam proses antri di apotek sempat berbincang santai dg ibu muda, sy awali dg tersenyum pada beliau tiba² cerita panjang lebar, yg intinya proses antri obat sdh dijalani selama tiga tahun, sekarang ini satu bulan sekali, dulunya juga dua minggu sekali seperti sy, yg menarik dari cerita nya bahwa suaminya adalah seorang tukang kebun di SMPN di Kab. Bojonegoro, Alhamdulillah tahun 2025 di terima PPPK jadi penghasilan nya cukup untuk biaya hidup saat ini, putra nya dua, yg pertama sdh berkeluarga dan bekerja di luar Negeri di perusahaan Asing, dan dari penghasilan nya sdh bisa untuk beli rumah, mobil dan sawah, sy sampaikan Alhamdulillah panjenengan luar biasa sdh sukses, tinggal putra ke dua masih pelajar di SLTA.
Kami ngobrol agak lama, sampai beliau cerita ttng suaminya yg pendiam dan bekerja di SMPN itu sdh sangat lama, sampai banyak guru yg sudah purna, yg sekarang di ganti guru² baru PPPK muda². Cerita beliau; guru² yg dulu (senior) sangat ramah, sering ngobrol dg tukang kebun (suaminya), tanya kabar sampai kadang makan bersama, tapi "semenjak guru baru yg muda² menyapa saja tidak pernah Bu, padahal baru jadi guru PPPK kog angkuh, kalau sarjana gajinya sy tidak tahu, tapi sy tahu gaji suami sy yg lulusan SLTA golongan 5", sy balik tersenyum pada beliau, mungkin pak guru Bu guru itu pada sibuk, jadi gak sempat ngobrol, jawab beliau lagi "Wong pas berpapasan saja gak mau senyum apalagi menyapa"
Dari cerita obrolan di atas, ada beberapa pelajaran yg indah;
Pertama, ibu itu memiliki suami yg jujur sehingga tahu berapa jumlah gajinya, dan sepulang dari kerja selalu disempatkan untuk ngobrol tentang pekerjaan dan lingkungan kerja nya, dan itu merupakan perilaku menjaga keharmonisan rumah tangga, ke dua, bahwa senyuman dan sapaan merupakan kebutuhan dasar manusia, yg menunjukkan karakter seseorang, karena nya senyuman sapaan merupakan kebaikan yg tidak perlu modal materi, hanya butuh kerendahan hati, apalagi sebagai pendidik mesti pandai dan mampu berkomunikasi serta berinteraksi dg banyak orang tanpa melihat latar belakang pendidikan
Memperbaiki diri untuk selalu berbuat kebaikan tanpa berharap balasan, miliki ilmu kuatkan iman agar Istikomah di jalan kebenaran
Ya Allah ampunilah kekhilafan kami, aamiin
Semoga bermanfaat
Semoga kita selalu sehat
Ngasem, 17 Januari 2026
SriMinarti10Bjn

No comments:
Post a Comment